Cekcok Dengan Petugas

hancau.net – Di daerah, seharusnya aparat lebih bisa mengerti keadaan. Tidak seperti di kota-kota besar yang informasinya lebih cepat terserap oleh masyarakat. Apalagi bagi warga yang berasal dari area pedesaan, informasi jarang sekali bisa sampai dengan cepat. Cekcok dengan petugas, sudah biasa.

Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, salah satunya ialah akses informasi ke warga desa tidaklah bisa disamakan dengan akses informasi di masyarakat perkotaan atau di daerah urbanisasi. Jika hal ini dipaksakan, maka sudah bisa dipastikan akan terjadi miskomunikasi yang tak berujung. Tidak jarang hal ini memicu gesekan horizontal, dan berujung ricuh.

Video ini diawali dengan seorang bapak-bapak yang mengeluarkan kartu identitasnya, karena tidak memakai masker saat melintasi posko Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Terlihat jelas beliau sedang kebingungan dengan pemeriksaan tersebut.

Berikut Kronologinya

Kami tuliskan sedikit arti dalam bahasa Indonesia yang mungkin saja ada bahasa yang kurang bisa dipahami.

“Nah… aku me-sms nah, hanyar aku me-sms handak mainjam duit,” kata beliau sambil terburu-buru.
“Nah… saya baru saja mengirim sms ingin meminja uang”

“Sampean kenapa, sampean kenapa? Saya nanya baik-baik…” tanya seseorang berbadan gempal, bermasker hitam.

“Kada, ini (sambil menunjuk seseorang berseragam polisi) handak menahan KTP ku,” jawab beliau.
“Tidak, dia mau menahan KTP saya”

Pria bermasker hitam tersebut berkata, “Sampean balik lagi, bawa masker baru dikembalikan KTP nya”.

“Lihati pang dahulu, minyak ulun tu ada kada lagi? amun sampai ka Puntun,” ucap beliau sambil mengajak pria tersebut melihat motornya.
“Ayo ke sini lihat, bensin di motorku mungkin mau habis? mungkin tidak bisa sampai ke Puntun”

Tanpa tedeng aling-aling pria bertubuh gempal itu berteriak-teriak seperti orang kesurupan (entah karena lapar atau cicilan moto masih nunggak), “INI ATURAN!!!”

Mulai dari sini nada suara penjaga posko tersebut terus meninggi.

“Iya… tahu aja. Ulun ni lagi kada beduit,” jawab bapak tersebut polos.
“Iya… saya tahu, masalahnya ini saya lagi tidak megang uang”

“SAMA…!!!” jawab pria bermasker tersebut sambil memukul meja.
“Kami juga menjalankan aturan,” lanjutnya.

“Aduuh… am, imbah kayapa ulun ni?” tanya bapak tersebut kebingungan.
“Waduh… bagaimana ya saya ini?”

Masih dengan nada suara yang tinggi pria yang kebetulan memakai baju biru itu pun menjawab, “Terserah!!! kami hanya menjalankan tugas, kalau mau protes. Silahkan protes ke walikota”.
“Kami udah baik, kamu jangan seperti itu,” katanya dengan terus membentak.

“Baiknya dimana?” tanya bapak itu, masih dengan wajah polosnya.
“Dimana baiknya?”

“Kami udah baik-baik mengumumkan, KTP diambil, sampean bawa masker,” jawab pria bermasker hitam.

“Ulun ni di rumah haja, mana tahu ada siaran yang kayak ini,” jawabnya dengan logat khas Banjar.
“Saya ini di rumah saja, tidak tahu kalau ada pengumuman seperti ini”

“Dimana-mana sudah ada pengumumannya!!!” bentak pria tersebut.

“Kadada… kadada….,” jawab bapak tersebut mempertahankan argumennya.
“Tidak ada…. tidak ada….”

Tiba-tiba hape yang dipegang bapak tersebut berbunyi,
“Nah… bos ulun bisa ini nah, ulun handak meinjam duit,” ujarnya.
“Nah… ini pasti telpon dari bos saya, tadi saya ingin meminjam uang”

Muncul suara dari belakang kamera, “Jalan kaki”.
“Pulang…,” kata pria gempal tadi menambahkan.

“Bejalan, kayapa bejalan?” tanya bapak tersebut agak bingung.
“Jalan gimana maksudnya?

Tiba-tiba datang seseorang, sepertinya memiliki pangkat yang lebih tinggi dari pria gempal tersebut.
“Dia gak terima ndan, kita sita KTP nya, dia gak pake masker,” tudingnya, seolah menjelaskan keadaan kepada komandannya.
Dengan santai, pria yang baru datang itu berkata, “Kamu jangan ngeyel.”

“Kada maraga ngeyel, ulun tu minyaknya kadada,” kata bapak tersebut mencoba menjelaskan keadaannya.
“Saya tidak ngeyel, cuma bensin motor saya tidak cukup”

“Terus apa aturannya, kalo KTP mu saya sita, terus apa?” sambar pria gempal itu.
“Ya babulik meambilnya….” belum selesai bicara, pria gempal itu langsung memotong, “ya ambil aja sana…!!!”

“Minyaknya kadada!!!” ujar bapak itu dengan sedikit meninggikan suaranya.
“Bensinnya tidak ada!!!”

“Kamu pulang!!!” perintah pria gempal tersebut.

“Habis itu?” tanya bapak yang kebetulan saat itu mengenakan baju putih.
“Setelahnya?”

“Pulang, kamu ambil masker pakai motor itu,” lanjut pria bermasker hitam itu.

“Minyaknya kada sampai,” jawab bapak tersebut sambil agak sedikit gagap.
“Bensinnya tidak cukup”

Tiba-tiba pria yang dipanggil komandan oleh pria gempal tersebut mengeluarkan dompet dan selembar uang 20ribuan sambil berkata, “ini diganti, nah… ikam beli minyak.”

“Nah… ini yang meanu, jadinya ulun….” kalimat bapak tersebut lagi-lagi dipotong.
“Nah… ini masalahnya, jadi saya…”

“GAK USAH BANYAK OMONG!!!” teriak pria gempal tersebut.
Lalu komandan tadi ikut bicara, “Sudah, diam diam… kamu nikar minyak, nanti bawa masker ambil KTP nya ke sini.”

Bapak tersebut kemudian langsung menuju motornya. Namun, belum sempat menaiki motornya, ada suara yang keluar, “Bilang aja mau minta duit”.

“Diitihi….” ujar bapak itu sambil membukakan jok motornya.
“Lihat kesini…”

“Bepada minta duit, naah….” kata bapak tersebut sambil mengembalikan uang yang baru diterimanya.
“Ngatain saya minta uang, ini ambil…”

“Maaf, menyambat kayak itu…. ulun kada mau disambati kayak itu,” kata bapak tersebut sambil mendorong motornya, kemudian berlalu pergi.
“Maaf, kalau cuma untuk mengata-ngatai saya… saya tidak ingin disebut seperti itu”

Video ini menuai banyak kritik dari netizen terkait perilaku petugas yang terlihat semena-mena terhadap bapak yang ada di video tersebut. Tidak jelas siapa yang mengunggah pertama kali. Sentimen SARA mulai dimunculkan di beberapa komentar facebook. Bapak yang cekcok dengan petugas itu pun mendapat perhatian khusus dari netizen. Bahkan dari luar daerah pun banyak yang berkomentar. (fix)

Berikut video lengkapnya

Baca juga: Kepergok di Kebun, Si Istri Nangis: Demi Allah Gak Masuk! – VIDEO

Editor:

2 thoughts on “Cekcok Dengan Petugas Saat PSBB di Palangka Raya”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *